Minggu, 26 Agustus 2012


Model dan Desain Produk Rotan Kota Palu


Desain Ergonomi Terus Dikembangkan
PALU-Model dan desain produk mebel dengan bahan baku    utama rotan tidak hanya mengutamakan fungsi. Tapi kenyamanan dalam penggunaannya kini juga menjadi prioritas untuk pembuatan mebel rotan seperti meja dan kursi, atau yang lebih dikenal dengan istilah Ergonomi.Desain ergonomi kini terus dikembangkan oleh industri mebel rotan, seperti yang dilakukan Bamba Rattan. Selain melayani order, usaha pembuatan mebel rotan di jalan Setia Budi ini terus berinovasi, yakni dengan menciptakan desain-desain ergonomi baru. Hal ini dilakukan dalam rangka menjawab tuntutan pasar, yang tumbuh dinamis. “Masih ada beberapa set pesanan meja dan kursi saya selesaikan.
Saya juga sedang membuat beberapa desain ergonomi baru,” ujar, Kamardin, pengelola Bamba Rattan, kemarin. Kamardin mengakui, selama ini membuat desain-desain baru meja dan kursi. Desain-desain baru ini mendapat respons yang sangat positif. Konsumennya rata-rata kalangan ekonomi menengah ke atas dan pejabat-pejabat di daerah ini. “Untuk satu model biasanya saya buat hanya dua unit saja. Selanjutnya, saya bikin model yang baru lagi supaya konsumen tidak bosan,” ungkapnya. Kamardin menceritakan, membuat sebuah produk mebel dengan desain dan model baru membutuhkan waktu, tenaga, pikiran dan juga biaya yang cukup, khususnya untuk pembelian bahan baku. Bila hasil produk belum memuaskan ia belum berani ‘melempar’ ke pasaran. Harga jual untuk setiap set kursi rotan disesuaikan dengan tingkat kesulitan dan bahan baku yang digunakan. “Kalau belum puas, biasanya saya bongkar lagi. Nanti betul-betul bagus baru saya berani pajang di kegiatan-kegiatan pameran. Biasanya, kalau saya pajang di pameran-pameran langsung terjual,” ungkapnya. “Ini sekarang saya membuat meja dan kursi yang nantinya akan dipajang di acara pameran Harganas,” sebutnya. Soal bahan baku, Kamardin mengaku selama ini belum sulit untuk mendapatkannya. Rotan polish dan vitrid bisa didapatkan di pabrik-pabrik pengolahan rotan dengan harga yang relatif sangat terjangkau. Ia mencontohkan, untuk rotan polish masih bisa didapatkan dengan harga sekitar Rp4.500 per kilogram.

kota palu


Kota Palu Produsen Utama Kakao dan Rumput Laut


Komoditas Yang Memberi Kontribusi Bagi Pendapatan Kota Palu
Potensi sumber daya alam Kota Palu sangat besar terutama pada sektor perkebunan dan kelautan. Komoditas utamanya adalah kakao dan rumput laut. Sebagian besar masyarakatnya menggantungkan hidupnya pada dua komoditas utama ini. Dari jumlah penduduk 300 ribu jiwa, sebanyak 750 orang bekerja di kedua sektor ini. Kota Palu merupakan wilayah pesisir teluk dengan posisi sekitar 700 meter di atas permukaan laut. Total luas lahan kota ini adalah 39.506 hektar. Wilayah administrasi pemerintahan terdiri atas 4 kecamatan dan 43 kelurahan. Topografi lahan terbagi dalam tiga zona ketinggian, yaitu dataran rendah atau pantai sepanjang arah utara ke selatan dan bagian timur ke utara, perbukitan di bagian sisi barat dan selatan, pegunungan dengan tingkat kemiringan tanah sekitar 5-400. Kakao merupakan komoditas yang paling banyak memberi kontribusi bagi pendapatan Kota Palu. Kakao sudah diekspor ke Malaysia, Singapura, Eropa, dan Amerika. Jumlah ekspor kakao Kota Palu per tahun mencapai 120-180 ribu ton. Jumlah tersebut mencapai sekitar sepertiga dari jumlah produksi kakao nasional yang mencapai sekitar 450 ribu ton per tahun. Ke depan, Kota Palu berencana akan membangun laboratorium dan kebun bibit kakao. Dari penelitian yang sudah dilakukan, ditemukannya bibit kakao varietas BPO7. Dengan bibit varietas ini, pohon kakao dapat dipetik buahnya ketika berumur 18 bulan, dari biasanya 3-4 tahun. Selain itu untuk meningkatkan sumberdaya manusia yang mengolahnya, pemerintah Kota Palu membangun Sekolah Menengah Kejuruan di bidang kakao. Potensi komoditas lain yang menjadi keunggulan Kota Palu adalah rumput laut. Saat ini diperkirakan sekitar 300 hektar lahan yang digunakan untuk pembudidayaan rumput laut. Luas lahan ini berdasarkan panjang garis pantai Provinsi Sulawesi Tengah yang mencapai 4.300 km sedangkan panjang garis pantai kota Palu adalah 42 km. Perhitungan potensi rumput laut basah yang bisa diperoleh dari sekitar 1 hektar lahan adalah 200 ribu ton per tahun. Rumput laut akan menyusut menjadi 28 ribu ton per hektar per tahun. Harga jual rumput laut Rp 4.000/kg. Setiap hektar bisa diperoleh pendapatan sebesar Rp. 11,2 miliar per tahun. Jika dihitung dengan potensi luas lahan 300 hektar, berarti dapat diperoleh pendapatan Rp. 3,360 triliun per tahun. Semua hasil produksi, sesuai kebijakan hanya dibuat setengah jadi. Misalnya kakao dan rumput laut dibuat dalam bentuk tepung. Komoditas ini kemudian dikirim ke pabrik pengolahan di Pulau Jawa untuk dikembangkan menjadi berbagai macam produk.